tema
tema
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Travel

Fashion

Contact



 Al-Quran sesungguhnya merupakan kitab yang berisi petunjuk dasar untuk hidup di alam dunia. Dengan menggunakan petunjuk itulah, kita diminta oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah dalam arti luas, bukan terbatas pada ruang lingkup ritual dan sakral, tetapi seluruh aplikasi kehidupan manusia sesungguhnya bagian dari ibadah. Tanpa menggunakan petunjuk itu, maka apapun yang kita niatkan sebagai ibadah akan sia-sia. Maka selayaknya sebagai muslim, kita bukan sekedar hanya membaca Al-Quran sebagai ritus ibadah, tetapi lebih dari itu, seharusnya kita mempelajari maknanya, mendalami esensi isinya, serta pengimplementasikan perintah-perintah yang ada di dalamnya menjadi suatu tindakan yang nyata.

Al-Quran sendiri telah mengumpamakan orang yang membaca kitab namun tidak mengerjakan isinya seperti layaknya keledai yang memanggul kitab.

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. Al-Jumu'ah: 5)

Maka menjadi kewajiban kita untuk mempelajari isi kitabullah, sebagaimana ciri orang yang bersifat rabbani.



Tidaklah patut bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Kitab ugama dan hikmat serta pangkat Nabi, kemudian ia tergamak mengatakan kepada orang ramai: "Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang menyembahku dengan meninggalkan perbuatan menyembah Allah". Tetapi (sepatutnya ia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbaniyin (yang hanya menyembah Allah Taala - dengan ilmu dan amal yang sempurna), kerana kamu sentiasa mengajarkan isi Kitab Allah itu, dan kerana kamu selalu mempelajarinya.
. (QS. Ali Imran: 79)

Perintah untuk melakukan tadabbur Al-Quran juga kita dapati sebagai sebuah keharusan sebagai seorang muslim.  

(Setelah diterangkan yang demikian) maka adakah mereka sengaja tidak berusaha memahami serta memikirkan isi Al-Quran? Atau telah ada di atas hati mereka kunci penutup (yang menghalangnya daripada menerima ajaran Al-Quran)? (QS. Muhammad: 24)

Sekedar Membaca pun Ibadah

Namun tidak dapat kita pungkiri bahwa Al-Quran itu memang lain dari wahyu yang lain. Salah satu kelebihannya adalah bila dibaca, meski tidak dipahami maknanya, Al-Quran tetap mendatangkan pahala. Walaupun manfaatnya menjadi sangat sedikit dibandingkan bila kita paham maknanya. Namun perintah membaca tetap ada, sehingga meski kita belum menguasai bahasa arab, tetap saja membaca Al-Quran merupakan perintah dari Allah SWT. Perintah untuk membaca Al-Quran kita temukan bertebaran di dalam Al-Quran sendiri, di antaranya ayat berikut ini:

Bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an.(QS. Al-Muzzammil: 20)

Selain ayat Quran juga banyak hadits nabawi yang menganjukan kita untuk membaca Al-Quran, tanpa menekankan pentingnya kita mengerti maknanya.

1. Orang yang Baca Al-Quran dengan Yang Tidak Baca Berbeda

Salah satu nash hadits secara tegas membandingkan orang yang membaca Al-Quran dengan yang tidak membaca Al-Quran. Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda, "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur`an bagaikan buah limau baunya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur`an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur`an bagaikan buah raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit." (HR Bukhari dan Muslim) Dari hadits ini jelas sekali bahwa sekedar membaca Al-Quran atau tidak membacasudah membedakan kedudukan seseorang. Berarti ada nilai tersendiri untuk sekedar membaca Al-Quran.

2. Bersama Malaikat

Hadits ini juga sangat eksplisit menyebutkan tentang orang yang membaca Al-Quran, yaitu dijanjikan Allah akan di tempat bersama dengan para malaikat. Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda, "Orang yang membaca Al-Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran." (HR Bukhari Muslim)

Semakin tegas lagi ketika lafadz hadits ini menyebutkan kasus orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata yang tetap saja akan diberikan pahala. Jelas menunjukkan tentang pentingnya membaca Al-Quran.

3. Bacaan Quran adalah Syafaat

Selain itu juga kita temukan adanya dalil yang menyebutkan tentang salah satu fungsi bacaan Quran sebagai syafaat yang akan menolong kita di hari akhir nanti. Dari Abu Umamah Al-Bahili berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda, "Bacalah Al-Qur`an!, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (HR Muslim)


4. Diberi Pahala per Huruf

Dan semakin tegas lagi pentingnya membaca Al-Quran ketika Rasulullah SAW bersabda:

Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata bahwaRasulullahSAW, "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan "Alif lam mim" itu satu huruf, tetapi "Alif" itu satu huruf, "Lam" itu satu huruf dan "Mim" itu satu huruf." (HR At Tirmidzi dan berkata, "Hadits hasan shahih). Betul-betul disebutkan bahwa membaca Al-Quran itu berpahala dan pahalanya dihitung perhuruf, di mana setiap huruf akan dikalikan sepuluh kebajikan.

Semua dalil ini menunjukkan bahwa sekedar membaca Al-Quran tanpa memaham arti, juga sudah mendatangkan pahala. Namun kalau kita bandingkan dengan dalil-dalil yang lain, tentu pahalanya akan menjadi lebih berkah, lebih banyak dan lebih besar, manakala kita pun juga mengerti dan paham makna bacaan yang kita baca.
dicopi:http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/02/hukum-membaca-al-quran-tanpa-tahu.html
ISU DARI SEBELAH INI PERLU DICEK KEBENARANNYA. BAG KITA MENYIKAPINYA?

Salamun alaikum.

COPAS WA TETANGGA, silahkan dianalisa kebenarannya dikaitkan dgn program Bela Negara

"INDONESIA DALAM BAHAYA BESAR"

Sekitar akhir th 1999 atau awal th 2000, seorang rekan saya yg mirip cina dan guru management orang cina diundang utk menghadiri rapat orang2 cina di universitas atmajaya semanggi. Yg diprakarsai mukhtar riyadi dan anakx james riyadi.

Inti dari rapat tersebut, bhw warga cina di cina daratan hampir 2 (dua) milyar, sehingga MEMBUTUHKAN NEGARA UNTUK DIJADIKAN KOLONISASI (JAJAHAN) MAKA DIPILIHLAH INDONESIA. Karena negarax luas, subur, kaya dan rakyatx relative gampang dibodohi.

Strategix adalah :
1. Membuat komplex perumahan sepanjang bibir pantai laut Jawa. Yg fungsinya selain dapat menyelundupkan barang dan yg terpenting MENYELUNDUPKAN ORANG CINA DARATAN MELALUI LAUT LANGSUNG KEBAWAH KOLONG RUMAH2 MEREKA. Ttp rumah2 tsb juga berguna bagi basis pertahanan bila terjadi kerusuhan (mereka dapat langsung melarikan diri kelaut dg speed boat yg stand by dikolong rumahx). [Perhatikan saat ini perumahan pluit, pantai indah kapuk, pantai mutiara, ancol]

2. Merubah UUD 45 TERUTAMA PASAL TTG PRESIDEN HARUS PRIBUMI ASLI DIGANTI DG SYARAT MENJADI PRESIDEN CUKUP HANYA WARGA NEGARA INDONESIA. MAKA ORANG CINA BERPELUANG
MENJADI PRESIDEN DI INDONESIA.

Awalx saya mengira, cerita kawan sy itu hanya sekedar mencari sensasi. Ttp ternyata semua perkataan kawan sy tsb terbukti benar. Awal tahun 2000 hingga terpilihnya jokowi sebagai presiden, KITA MELIHAT DI MALL2 ADA COUNTER BERUKURAN 2X2 DIJAGA OLEH 5-6 ORANG CINA. MENGAPA BEGITU? YANG BISA BERBAHASA INDONESIA 1 ORANG SAJA SEDANGKAN SISANYA SEDANG BELAJAR BAHASA INDONESIA SERTA UNTUK MENYESUAIKAN DIRI DGN LINGKUNGAN. Ttp kini setelah jokowi jadi presiden dan ahok menjadi gubernur DKI mereka tdk ragu2 lagi untuk turun kelapangan dan menawar2kan barang dagangan dengan menggunakan bahasa cina. (JADI SIAPA JOKOWI ITU BAGI ORANG CINA?)

Apalagi setelah pasal tentang syarat menjadi presiden INDONESIA PADA UUD 1945 DIAMANDEMENT PADA TAHUN 2002 SY SEMAKIN YAKIN BAHWA CERITA KAWAN SY ITU 1000% BENAR.

Perlu diingat, bhw cina telah berhasil merampas singapura menjadi kolonisasi mereka dan menjadikan suku melayu sebagai warga kelas 2.

Dan perlu diingat juga ditahun 1969-1970 orang2 pernah berusaha merampas malaysia dan membantai orang2 melayu untuk dijadikan SINGAPUR KE 2. Ttp gagal karena perdana menteri malaysia meminta tolong kepada presiden soeharto untuk memadamkan pemberontakan orang2 cina tersebut.
Dan dikirimlah PITUT SUHARTO utk melakukan perlawanan.

Menurut seorang rekan sy yg punya istri orang malaysia, pada 10 hari menjelang idul fitri tahun ini di Malaysia terjadi kerusuhan disebuah mall dimana orang melayu dibantai orang2 cina dengan menggunakan samurai. Ttp hal ini tdk dipublikasikan oleh media masa yg memang dikuasai oleh konglomerat cina.

KINI TINGGAL SELANGKAH LAGI JABODETABEK DISINGAPURKAN.

1. MEREKA MERANCANG JABODETABEK MENJADI MEGAPOLITAN.
DGN BANTUAN 5 PENGEMBANG BESAR (AGUNG SEDAYU, AGUNG PODOMORO, SUMMARECON, LIPO GROUP, DAN SINARMAS)
MEREKA MEMBANGUN APARTEMEN2, RUSUNAMI DAN RUSUNAWA.
MEMANG HARGA DAN ONGKOS SEWANYA MURAH, TTP BIAYA MAINTENANCENYA DIPERTINGGI. JUGA BIAYA HIDUP TINGGI. HINGGA ORANG PRIBUMI TIDAK BISA HIDUP DI JABODETABEK MEGAPOLITAN. MAKA APARTEMEN RUSUNAMI DAN RUSUNAWA DIISI ORANG2 CINA. TINGGALAH ORANG PRIBUMI MENJADI BABU, SATPAM, OB DAN SUPIR.

JANGAN BILANG INI FITNAH. COBA BUKA MATA KITA. SEMUA BUKTI MENYATAKAN KEBENARAN PERNYATAAN INI. APALAGI SETELAH AHOK MERENCANAKAN PENGGUSURAN 130 TITIK PEMUKIMAN PRIBUMI DI JAKARTA. DAN BERNIAT BELAJAR PADA SINGAPURA BAGAIMANA CARA MEMBANGUN KOTA.

PROGRAM INI DIPERMULUS OLEH JOKO WIE DG LANGKAH YG LEBIH BESAR.

2. MEMISKINKAN RAKYAT INDONESIA DG BERBAGAI CARA. TERUTAMA MEDEREGULASI SERTA MEMPERMUDAH SYARAT MEMBUAT PASAR2 MODERN. MAKA PASAR2 TRADISIONAL HANCUR BERANTAKAN. DAN PRIBUMI MATI KELAPARAN.

3. BEKERJA SAMA DG PEMERINTAH CINA DALAM SEGALA BIDANG, DAN MENGGANTIKAN PERAN USA DG RRC. MENJUAL/MENGGADAIKAN ASET2 PENTING INDONESIA PD CINA.

4. MEMASUKAN BURUH2 CINA. BERBADAN KEKAR, KRN MEREKA ADALAH TENTARA CINA. KEADAAN INI MIRIP JEPANG KETIKA AKAN MENYERBU INDONESIA MEREKA TERLEBIH DAHULU MEMASUKAN ORG JEPANG KE INDONESIA, YG KELAK BERTUGAS UTK MENYAMBUT DARI DALAM MANAKALA TERJADI EKSPANSI.

5. MEMBIARKAN KAPAL INDUK CINA BERSANDAR DI NATUNA (LAUT CINA SELATAN) YG KONON KABARX MAU MENCAPLOK KEPULAUAN NATUNA KRN DI KLAIM MILIK CINA

6. JOKO WIE SECARA SENGAJA MEMBUAT EKONOMI DAN SOSIAL POLITIK INDONESIA CARUT MARUT UTK MEMBUAT PRIBUMI SEMAKIN HANCUR BERANTAKAN, PENGANGGURAN, ORG MISKIN SEMAKIN BESAR.

AHOK BUKAN TANPA SENGAJA MEMBUAT KEBIJAKAN DAN TINGKAH YG MEMUAKAN. KARENA DIA INGIN MEMANCING AMARAH PRIBUMI AGAR RENCANAX SEGERA TERALISIR.

Sekarang terserah bangsa ini maunya apa?!
MELAWAN ATAU MEMBIARKAN ANGKARAMURKA BERSIMAHARAJA LELA.
HENTIKAN PERMUSUHAN DAN PERBEDAAN ANTARA ANAK BANGSA.



tulisan di atas penulis copas dari : https://www.facebook.com/groups/abdkadir72/permalink/1314427408572374/


sengaja penulis tambahkn judul YA'JUJ MA'JUJ ,teringat waktu bulan kmaren silaturohim k slh satu syarif  keturunan Imam Hasan Cucu Rosulullh SAW ber marga alhasni

beliau bercerita tntg YA'JUJ MA'JUJ yg abadi kisahnya di suroh alkahfi dng Dzurqornain,

di mana YA'JUJ MA'JUJ  berada,di mna Pagar benteng setinggi gunung yg dibangun oleh Dzurqornain? apakah tembok di China ituh? Allh  A'lam..





Teori DBAS( Dunia Bahagia Akherat Surga)di majelis tafakur  Mutiara Tauhid Bandung,menurut saya perlu diricek secara ilmiah syariah dan akhlaq islam.
Karena setelah saya ikuti lebih serius tafakuran yang dibina oleh Ir Permadi Alibasya dengan membaca buku2 dan mendengarkan cd Mp3 Bahan Renungan Kalbu juga dialog dengan beberapa jama'ah tafakuran dan fasilitator kemudian saya share kan ke beberapa 'Alim Ulama maka ditemukan kejanggalan2 pembahasan bahkan ada wacana yg bertentangan dengan AlQur-an dan Sunnah Rosulullah SAW contohnya sbb:

1.Mereka beranggapan DBAS lbh tinggi daripada Rido Allah
 menurut mereka teori DBAS didukung oleh semua ayat2 AlQur-an
 sedangkan rido Allah belum tentu didukung oleh semua ayat2 AlQur-an


  > mereka belum membaca atau lupa jika ada ayat yg kira2 artinya "wahai jiwa yg tenang kembalilah kepada Tuhanmu dlm keadaan rela dan diridoi...."

2.Dengan teori DBAS melahirkan karakter kepribadian yang super tenang dalam menghadapi gejolak kehidupan,namun dia lupa bahwa dia hidup di lingkungan sosial.Apalagi dia adalah seorang muslim yang wajib mengedepankan akhlaq daripada ego pribadi.
Faktanya terbentuk karakter yang mementingkan diri sendiri happy/fun walaupun orang di sekitarnya Galau.


3.mereka menganggap syetan bukan makhluk,mereka tidak paham bahwa selain Dzat yang Qodim adalah huduts.


Memang  kalau cuma hadir(kadang2) ikut kajian tafakuran Mutiara tauhid salah satunya bertempat di Alifa jl BKR BAndung,sekilas kajiannya mantap dan bisa mudah membuat taat,tetapi tdk diajarkan taat atau taqwa kpd Allah itu apa saja.
Makalah Sejarah Penyusunan Al Quran
Oleh: Ibrahim Lubis
A. Pengertian Al Quran
Al-Qur’ān (ejaan KBBI: Alquran, Arab: القرآن) adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-'Alaq ayat 1-5[1].
Secara Etimologi Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur'an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya”
Sedangkan secara terminologi menurut Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai “Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”.
Sedangkan Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas"
Dapat disimpulkan bahwa Al Quran merupakan firman Allah SWT yang diwahyukan kepada nabi muhammad SAW melalui malaikat Jibril AS dan membacanya merupakan suatu ibadah. Firman allah yang disampaikan selain kepada nabi muhammad saw seperti kitab taurat (Nabi Musa), kitab Injil (Nabi Isa) dan kitab zabur (nabi Daud)tidak termasuk al Quran dan tidak ibadah apabila membacanya.
B. Nama-nama lain Al-Qur'an
Dalam Al-Qur'an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur'an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:
1. Al-Kitab QS(2:2),QS (44:2)
2. Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1)
3. Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9)
4. Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat): QS(10:57)
5. Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37)
6. Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39)
7. Asy-Syifa' (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82)
8. Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33)
9. At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)
10. Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77)
11. Ar-Ruh (ruh): QS(42:52)
12. Al-Bayan (penerang): QS(3:138)
13. Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6)
14. Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102)
15. An-Nur (cahaya): QS(4:174)
16. Al-Basha'ir (pedoman): QS(45:20)
17. Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52)
18. Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)
C. Struktur dan pembagian Al-Qur'an
1. Surat, ayat dan ruku'
Al-Qur'an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat). Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang dengan 286 ayat adalah surat Al Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat Al Kautsar, An-Nasr dan Al-‘Așr. Surat-surat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku' yang membahas tema atau topik tertentu.
2. Makkiyah dan Madaniyah
Sedangkan menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi atas surat-surat Makkiyah (surat Mekkah) dan Madaniyah (surat Madinah). Pembagian ini berdasarkan tempat dan waktu penurunan surat dan ayat tertentu di mana surat-surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah.
Surat yang turun di Makkah pada umumnya suratnya pendek-pendek, menyangkut prinsip-prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia. Sedangkan yang turun di Madinah pada umumnya suratnya panjang-panjang, menyangkut peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan atau seseorang dengan lainnya (syari'ah). Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini lebih tepat, sebab ada surat Madaniyah yang turun di Mekkah.[rujukan?]
3. Juz dan manzil
Dalam skema pembagian lain, Al-Qur'an juga terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan Al-Qur'an dalam 30 hari (satu bulan). Pembagian lain yakni manzil memecah Al-Qur'an menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.
4. Menurut ukuran surat
Kemudian dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada di dalam Al-Qur’an terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
a) As Sab’uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Yaitu Surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al Maa-idah dan Yunus
b) Al Miuun (seratus ayat lebih), seperti Hud, Yusuf, Mu'min dan sebagainya
c) Al Matsaani (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti Al-Anfaal, Al-Hijr dan sebagainya
d) Al Mufashshal (surat-surat pendek), seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan sebagainya
D. Sejarah Al Quran hingga berbentuk mushaf
Al-Qur'an memberikan dorongan yang besar untuk mempelajari sejarah dengan secara adil, objektif dan tidak memihak[2]. Dengan demikian tradisi sains Islam sepenuhnya mengambil inspirasi dari Al-Qur'an, sehingga umat Muslim mampu membuat sistematika penulisan sejarah yang lebih mendekati landasan penanggalan astronomis.
1. Penurunan Al-Qur'an
Al-Qur'an tidak turun sekaligus. Al-Qur'an turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Oleh para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.
2. Penulisan Al-Qur'an dan perkembangannya
Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur'an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan.
3. Pengumpulan Al-Qur'an pada masa Rasullulah SAW
Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an setelah wahyu diturunkan.
4. Pengumpulan Al-Qur'an pada masa Khulafaur Rasyidin
Pada masa pemerintahan Abu Bakar
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur'an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur'an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad SAW.
Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan
Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur'an (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standardisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam pada masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur'an.
Mengutip hadist riwayat Ibnu Abi Dawud dalam Al-Mashahif, dengan sanad yang shahih:“ Suwaid bin Ghaflah berkata, "Ali mengatakan: Katakanlah segala yang baik tentang Utsman. Demi Allah, apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Al Qur'an sudah atas persetujuan kami. Utsman berkata, 'Bagaimana pendapatmu tentang isu qira'at ini? Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qira'atnya lebih baik dari qira'at orang lain. Ini hampir menjadi suatu kekufuran'. Kami berkata, 'Bagaimana pendapatmu?' Ia menjawab, 'Aku berpendapat agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.' Kami berkata, 'Pendapatmu sangat baik'." ”
Menurut Syaikh Manna' Al-Qaththan dalam Mahabits fi 'Ulum Al Qur'an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Qur'an turun dalam dialek bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam).
E. Upaya penerjemahan dan penafsiran Al Qur'an
Upaya-upaya untuk mengetahui isi dan maksud Al Qur'an telah menghasilkan proses penerjemahan (literal) dan penafsiran (lebih dalam, mengupas makna) dalam berbagai bahasa. Namun demikian hasil usaha tersebut dianggap sebatas usaha manusia dan bukan usaha untuk menduplikasi atau menggantikan teks yang asli dalam bahasa Arab. Kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan tidak sama dengan Al-Qur'an itu sendiri.
1. Terjemahan
Terjemahan Al-Qur'an adalah hasil usaha penerjemahan secara literal teks Al-Qur'an yang tidak dibarengi dengan usaha interpretasi lebih jauh. Terjemahan secara literal tidak boleh dianggap sebagai arti sesungguhnya dari Al-Qur'an. Sebab Al-Qur'an menggunakan suatu lafazh dengan berbagai gaya dan untuk suatu maksud yang bervariasi; kadang-kadang untuk arti hakiki, kadang-kadang pula untuk arti majazi (kiasan) atau arti dan maksud lainnya.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:
· Al-Qur'an dan Terjemahannya, oleh Departemen Agama Republik Indonesia, ada dua edisi revisi, yaitu tahun 1989 dan 2002
· Terjemah Al-Qur'an, oleh Prof. Mahmud Yunus
· An-Nur, oleh Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Siddieqy
· Al-Furqan, oleh A. Hassan guru Persatuan Islam
Terjemahan dalam bahasa Inggris antara lain:
· The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary, oleh Abdullah Yusuf Ali
· The Meaning of the Holy Qur'an, oleh Marmaduke Pickthall
Terjemahan dalam bahasa daerah Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:
· Qur'an Kejawen (bahasa Jawa), oleh Kemajuan Islam Jogyakarta
· Qur'an Suadawiah (bahasa Sunda)
· Qur'an bahasa Sunda oleh K.H. Qomaruddien
· Al-Ibriz (bahasa Jawa), oleh K. Bisyri Mustafa Rembang
· Al-Qur'an Suci Basa Jawi (bahasa Jawa), oleh Prof. K.H.R. Muhamad Adnan
· Al-Amin (bahasa Sunda)
· Terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Bugis (huruf lontara), oleh KH Abdul Muin Yusuf (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Urwatul Wutsqaa Benteng Sidrap Sulsel)
2. Tafsir
Upaya penafsiran Al-Qur'an telah berkembang sejak semasa hidupnya Nabi Muhammad, saat itu para sahabat tinggal menanyakan kepada sang Nabi jika memerlukan penjelasan atas ayat tertentu. Kemudian setelah wafatnya Nabi Muhammad hingga saat ini usaha menggali lebih dalam ayat-ayat Al-Qur'an terus berlanjut. Pendekatan (metodologi) yang digunakan juga beragam, mulai dari metode analitik, tematik, hingga perbandingan antar ayat. Corak yang dihasilkan juga beragam, terdapat tafsir dengan corak sastra-bahasa, sastra-budaya, filsafat dan teologis bahkan corak ilmiah.
F. Adab terhadap Al-Qur'an
Ada dua pendapat mengenai hukum menyentuh Al-Qur'an terhadap seseorang yang sedang junub, perempuan haid dan nifas. Pendapat pertama mengatakan bahwa jika seseorang sedang mengalami kondisi tersebut tidak boleh menyentuh Al-Qur'an sebelum bersuci. Sedangkan pendapat kedua mengatakan boleh dan sah saja untuk menyentuh Al-Qur'an, karena tidak ada dalil yang menguatkannya.
1. Pendapat pertama
Sebelum menyentuh sebuah mushaf Al-Qur'an, seorang Muslim dianjurkan untuk menyucikan dirinya terlebih dahulu dengan berwudhu. Hal ini berdasarkan tradisi dan interpretasi secara literal dari surat Al Waaqi'ah ayat 77 hingga 79.
Terjemahannya antara lain: 56-77. Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, 56-78. pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), 56-79. tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (56:77-56:79)
Penghormatan terhadap teks tertulis Al-Qur'an adalah salah satu unsur penting kepercayaan bagi sebagian besar Muslim. Mereka memercayai bahwa penghinaan secara sengaja terhadap Al Qur'an adalah sebuah bentuk penghinaan serius terhadap sesuatu yang suci. Berdasarkan hukum pada beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, hukuman untuk hal ini dapat berupa penjara kurungan dalam waktu yang lama dan bahkan ada yang menerapkan hukuman mati.
2. Pendapat kedua
Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud oleh surat Al Waaqi'ah di atas ialah: "Tidak ada yang dapat menyentuh Al-Qur’an yang ada di Lauhul Mahfudz sebagaimana ditegaskan oleh ayat yang sebelumnya (ayat 78) kecuali para Malaikat yang telah disucikan oleh Allah." Pendapat ini adalah tafsir dari Ibnu Abbas dan lain-lain sebagaimana telah diterangkan oleh Al-Hafidzh Ibnu Katsir di tafsirnya. Bukanlah yang dimaksud bahwa tidak boleh menyentuh atau memegang Al-Qur’an kecuali orang yang bersih dari hadats besar dan hadats kecil.
Pendapat kedua ini menyatakan bahwa jikalau memang benar demikian maksudnya tentang firman Allah di atas, maka artinya akan menjadi: Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali mereka yang suci/bersih, yakni dengan bentuk faa’il (subyek/pelaku) bukan maf’ul (obyek). Kenyataannya Allah berfirman : Tidak ada yang menyentuhnya (Al-Qur’an) kecuali mereka yang telah disucikan, yakni dengan bentuk maf’ul (obyek) bukan sebagai faa’il (subyek).
“Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci”[3] Yang dimaksud oleh hadits di atas ialah : Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali orang mu’min, karena orang mu’min itu suci tidak najis sebagaimana sabda Muhammad. “Sesungguhnya orang mu’min itu tidak najis”[4]
 http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/12/sejarah-penyusunan-al-quran.html
Postingan di bawah ini adalah salinan sms kritikan kepada penulis buku BAHAN RENUNGAN KALBU Ir.Permadi Alibasyah Bandung oleh teman di Indramayu yang membeli buku BAHAN RENUNGAN KALBU  ,


  Assalamu'alaikum.Wr.Wb. 
Yth. Bapak IR.H.PERMADI ALIBASYAH.
 
Sy akan kabar2kan ke teman2 di Indramayu tentang buku hebat ini. 
"BAHAN RENUNGAN KALBU". 

Sebelum-nya, Sy mohon perkenan Bapak. Ada bbrp pertanyaan yg ingin sy kemukakan langsung, yaitu:

1.Mengapa tidak menuliskan khot teks asli Al-Qur'an? Juga Transliterasi huruf Hijaiyah. Hal tsb. merupakan keharusan, kaidah serta etika penulisan buku. Hal ini dikhawatirkan berpotensi adanya distorsi dalam penerjemahan dan maknanya.
 
2.Bahasan di hal. 62 & 368. Menurut pendapat sy, bila kita tidak taat kpd ALLAH SWT atau pro kpd setan, maka korban-nya atau yg rugi adalah kita sendiri. Kita hanya sebatas makhluk, tak mungkin bisa menimpakan kemudlorotan atau manfaat kpd ALLAH Azza wa Jalla. Sy menduga, ada kemungkinan, 
"dikatakan ALLAH sbg korban", maksud Penulis adalah sekedar pembahasa-an untuk memudahkan penjelasan, tapi tetap saja terkesan aneh bahkan bisa jadi keliru. 

3.Hal.139 dalam pembahasan mencantumkan pendapat Budha & Injil (Lukas 6:27-28) sbg sandaran, mengapa? Padahal Al-Qur'an, Al-Hadist, Ijma Ulama, sudah lebih dari cukup, bahkan kita dilarang mengambil sumber2 lain. 

4.Tidak ada indentitas/ CV Penulis. Mengapa?

#Wallahu'alam bish showab.  #
Di masa sekarang ini banyak sekali beredar buku-buku  agama Islam dari pembahasan fiqih praktis sampai pembahasan ilmu tasawuf.
Hal ini adalah suatu kemajuan  di dunia keilmuan agama,sehingga lebih mempermudah untuk belajar dan mendalami agama Islam.

Tetapi sebelum kita membaca isi satu buku pengetahuan agama,sebaiknya kita terlebih dahulu mengenal  siapa penulis buku tersebut,karena sebagus apapun isi buku itu ruhnya ada pada penulisnya.

Di antara hal2 yang penting diketahui dari penulis adalah:

1.Latar belakang atau Biografi penulisnya
2. Di mana penulis buku belajar agama?
3. siapa guru penulis buku tersebut?

-jika seseorang belajar tanpa guru ,dikuatirkan gurunya adalah syetan,sebagaimana tersebut di kitab Khozinatul Asror"Barangsiapa tdk punya guru,maka gurunya adalah syetan"
4.Dari mana penulis mengambil intisari tulisan tersebut?
Dan yang lebih penting dari buku tersebut hendaklah buku tersebut dikoreksikan kepada ahlinya,yaitu 'Alim 'Ulama (yang diakui oleh mayoritas 'Ulama atau lembaga yang berwenang).

Jika item2 tersebut masih kabur sebaiknya tinggalkan saja buku itu dan lebih baik membaca Alqur-an meskipun tidak paham artinya,karena ada perintah untuk membacanya,atau membaca dzikir atau sholawat kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaannya,mengapa kita harus mengetahui latar belakang penulis?karena jika kita masih minim pemahaman masalah agama,besar kemungkinan kita terbawa alunan isi buku yang kita baca,kita mengira isinya bagus ,padahal banyak pemahaman  yang menyimpang,apalagi menyesatkan.
Apalagi di zaman sekarang tidak sedikit yang hanya tahu sedikit tentang agama sudah berani berbicara bahkan dengan ringan berfatwa ke publik.Mereka menyadari kalau dirinya tidak menguasai ilmu agama,dengan hanya berbekal merasa mendapat ilham sudah berani menafsirkan Alqur-an dengan polah pikirnya sendiri.

Untuk menilai baik buruknya suatu perkara,tidak cukup hanya alasan menurut pemikiran kita sendiri.Tetapi harus mengikuti standarisasi yg berlaku,misalkan di depan kita ada barang berupa diamond ,seyogiyanya yang berhak memberi kriteria dan nilai diamond tersebut adalah lembaga yg legal seperti sucofindo.

Sebagaimana buku Bahan Renungan Kalbu yang ditulis Oleh ir.Permadi Alibasya Bandung.
Di buku tersebut tidak disertakan biografi penulis.
Setahu saya  mengenai biografi penulis buku Bahan Renungan Kalbu  tersebut,setelah saya dialog dengan beberapa orang yg pernah dekat dengan Pak Permadi,beliau adalah Pensiuanan dini dr IT Perusahaan PLN Jawa Barat.
Siapakah gurunya?
masalah ini masih kabur atau memang beliau tdk belajar agama kepada seorang guru,cuma beliau pernah cerita ke para fasiltator tafakuran kalau beliau menulis buku itu seiring beliau mendapat wangsit.????.

Pertanyaan?
Apakah cukup belajar agama hanya dengan membaca buku,tanpa adanya bimbingan guru?
jika ada guru, apakah boleh beljar kepada guru yang asal2an?

gimana jadinya jika ada suatu lembaga pendidikan muridnya belajar hanya cukup dngan buku saja,tanpa guru?

dan apa yang terjadi jika Sekolah Lanjutan Tingkat Atas gurunya hanya lulusan Sekolah Dasar?
Itu hanya masalah duniawi kita bisa membayangkan akibatnya.Apalagi urusan agama,karena peraturan agama ditujukan bukan

hanya untuk kemakmuran di dunia saja,bahkan untuk kebahagian kehidupan yg abadi.


Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

Tasty Treats
Travel Journal

Categories

  • Alqur-an 3
  • aswaja 2
  • berita 1
  • fikih 1
  • liberal 6
  • non-aswaja 1

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Oddthemes

Random Products

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates